12/27/19

Tempat Persinggahan Para Mubaligh Islam

Ilustrasi hidayatullah.com

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa Nusantara ini telah menjadi tempat tujuan atau merupakan tempat persinggahan para mubalig Islam. Oleh karenanya tidaklah mengherankan apabila sepanjang pesisir pulau Sumatra menjadi ramai dikunjungi para pedagang Arab, India dan Tionghoa yang merangkap sebagai mubaligh atau para mubalig yang merangkap sebagai pedagang. 

Dengan adanya kunjungan ini maka di antara mereka dengan bangsa Indonesia terjadi dan terjalin kontak atau intereksi social dalam berbagai bentuk. Ada interaksi dalam hubungan dagang dan perniagaan atau bahkan dalam hubungan perkawinan yang dikaitkan dengan adanya interaksi ini terbentuklah jama’ah-jama’ah Islam meskipun masih tersebar dan dalam jumlah yang relative masih kecil. 

Pada waktu yang hampir bersamaan di nusantara, terutama di kepulauan Sumatra menjadi jalur hubungan pengembangan Agama Hindu dan Budha dari India dan Tiongkok. Kepulauan Sumatra dan Malaka waktu itu menjadi daerah persinggahan penganjur agama Hindu dan Budha; lalu menyusul pulau-pulau jawa. Dari gambaran di atas dapat kita bayangkan, bagaimana pentingnya masa itu, dimana suatu pengembangan berbagai agama sedang berlangsung dan berjalan. 

Sejak saat itu di beberapa tempat mulai terbentuk masyakarat Islam, pada umumnya terdapat di daerah-daerah pantai. Yakni daerah yang tidak terjangkau oleh kekuasaan kerajaan Sriwijaya, seperti daerah Aceh. Karena daerah pantai lebih memudah membentuk masyarakat Islam daripada daerah lainnya. Sedangkan di daerah lain dimana pengaruh Hindu atau Budha telah kuat terutama daerah yang telah dimasuki kekuasaan kerajaan Sriwijaya, para mubaligh Islam tetap bersikap luwes dan penuh toleran, di samping tetap menjaga prinsip Islami. Sehingga dengan demikian perngaruh Islam dalam proses pembentukan kerajaan Islam melalui masyarakat-masyarakat Islam tersebut berlangsung dalam masa yang relatif lama. 

Perlu dicatat bahwa Sriwijaya selaku kerajaan Hindu Melayu di Sumatra, telah berdiri sejak abad VII (7) hingga XIII (13) M. Pengarunya terutama di daerah Palembang, Jambi dan beberapa bandar di Selat Malaka. Sedangkan kerajaan Pajajaran, yakni kerajaan kuno yang terletak di Jawa Barat, ketika itu belum ada. Kerajaan itu baru berdiri pada abad XIV (14) M. Sementara kerajaan Majapahit, yakni kerajaan Hindu Jawa di Jawa Timur, baru berdiri pada akhir XIII (13) M hingga awal abad XVI (16). 

Dunia sejarah telah mencatat, bahwa agama Islam disiarkan dan dikembangkan, di Nusantara dengan cara damai tanpa kekerasan Misi para Mubalig Islam semata-mata bertujuan suci yakni menyampaikan kebenaran, dan mengaja umat manusia agar berkelakuan baik serta menjahui perbuatan-perbuatan jahat dan keji. Meskipun mungkin diantara mubaligh Islam dengan para pengajar Hindu dan Budha terjadi persaingan dalam kegiatan mereka menyiarkan agama, namun semua itu berangsung secara damai tanpa kekerasan. Akhirnya melalui proses pengembangan Islam yang kian membudaya dalam kehidupan masyarakatnya maka lahirlah suatu kerajaan Islam yang kuat dan makmur di Pasai atau yang yang lazim disebut dengan Nama “Samudra”, sehingga bila digabungkan menjadi “Kerajaan Samudra Pasai”

Bila kita perhatikan dengan seksama dapat diketahui bahwa antara jaman kedatangan agama Islam ke Indonesia dengan berdirinya kerajaan Islam, terdapat suatu jarak waktu yang cukup panjang. Abad VII (7) M merupakan tahun masuknya Islam ke Indonesia, sedangkan abad X (10) M merupakan tahun berdirinya kerajaan Pasai. Sehingga terjadi jarak waktu selama dua abad antara kedua moment tersebut. Ini merupakan bukti nyata bahwa perjalanan dakwah Islam begitu pelan tapi pasti, Islam sangat mengutamakan kedamaian dan anti kekerasan. 

Para mubaligh Islam pada periode ini cukup memahami betapa besarnya pengaruh dan kekuasaan Sriwajaya di daerah pantai selat Malaka, di samping adanya persaingan antara mubaligh Islam dengan penganjur￾penganjur Hindu dan Budha dalam menyampaikan misinya, namun persaingan itu berlangsung dengan ramah dan penuh kedamaian. Semua ini menggambarkan kepada kita betapa tekunnya para mubaligh Islam dalam melakukan dakwahnya dan mereka dalam pengembangannya tidak mau tergesa-gesa, apalagi cepat-cepat mendirikan sebuah kerajaan Islam. Mereka nampaknya lebih mengutamakan berhasilnya usaha dalam mematangkan kondisi masyarakat Islam.


Sumber : Buku "Abuya Syeikh Muhammad Waly Al-Khalidy. Bapak Pendidikan Aceh" 2016, Banda Aceh

No comments:

Post a Comment