12/28/19

Kisah Ibnu Bathutah yang Sangat Mengagumi Raja Pasai Al-Malik Az-Zahir

Ibnu Bathutah source Boombastis

Dalam bidang pengembangan agama Islam ke seluruh pelosok tanah air bahkan sampai ke Semanjung Malaka, Aceh telah memainkan peranan yang penting. Pengaruh Aceh di jaman lampau atas pesisir timur dan barat pulau Sumatra cukup besar. 

Dan ini merupakan akibat pengembangan agama Islam yang dikembangkan oleh mubaligh Aceh. Para mubaligh Aceh itu telah mendatatangi daerah Jawa, Tidore/Ternate, Bugis/ Sulawesi, bahkan juga Malaka dan Kedah. ini semua dalam rangka menjalankan tugas suci keagamaan, terutama pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 sd 1636). 

Dan pengembangan agama Islam di atas, sebenarnya bukan semata-mata karena peranan para ulama Aceh saja, tetapi juga peranan raja-raja Aceh jaman dahulu (juga selaku ulama) yang mengetahui dan menguasai nilai- nilai dan ilmu agama. Ini dapat diketahui dari catatan seorang pengeliling dunia bernama Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim At-Thanji, atau lebih terkenal dengan nama Ibnu Bathutah. Ia lahir di Tengger (Tanggier, Thanja-Maloki) di bibir Selat Giblatar, pada tahun 1304 M. 

Beliau seorang musafir Islam yang dikenal banyak mengadakan perjalanan pada abad pertengahan. Tidak kurang 30 tahun lamanya (tahun 1325) beliau mengadakan beberapa perjalanan yang tercatat. Catatanya itu telah ditulisnya dalam bukunya yang berjudul “Tuhfatun Nadh fii Gharabil Amshar” (Hasil pengamatan menjelajahi negri-negri asing). Beliau meninggal pada usia 76 tahun (sekitar tahun 1380 M) dan bukunya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. 

Dalam perjalanan ke Tionkok, Ibnu Bathutah 2 kali singgah di Indonesia, sekali ketika berangkat dan sekali ketika pulang dari Tiongkok. Ketika singgah ke Indonesia, yakni di kerajaan Pasai pada tahun 1345 M, ia sangat terkesan dan kagum menyaksikan perkembangan Islam ke Pasai. Pada waktu kapal layarnya memasuki pelabuhan Aceh dan setelah selesai diperiksa oleh pembesar pribumi ia diizinkan mendarat. Sementara itu kedatangan Ibnu Bathutah telah diberitahukan kepada sultan. Beliau dijemput oleh utusan sultan, qadhi dan ulama-ulama lain. Untuk penjemputannya disediakan kuda khusus dari sultan. 

Ibnu bathutah sangat mengagumi Raja Pasai yang memerintah ketika itu, yakni Al-Malik Az-Zahir, seorang raja yang sangat alim dan bermazhab Syafi’i. hingga Ibnu Bathutah pernah menyampaikan kesannya, bahwa bila dibandingkan dengan raja-raja Islam yang pernah ia kunjungi, baik di Hindustan, Turkistan dan Bukhara, bahkan Mesir sekalipun, maka raja Jawa (yang dimaksud raja Pasai) adalah raja yang paling alim dengan ilmunya yang sangat mendalam. 

Ketika ibnu Bathutah singgah di kerajaan Pasai, beliau laporkan sebagai berikut : “Kemudian saya masuk menghadap sultan. Di samping baginda saya bertemu Qadhi Amir Rasyid, sedangkan para penuntut ilmu ilmu duduk di sebelah kanan dan kiri baginda. Saya dipersilahkan duduk duduk disebelah kirinya. Raja menanyakan kepada saya tentang sultan Muhammad dan penjelasan saya, semuanya saya jawab. Kemudian baginda pun meneruskan muzakarahnya tentang ilmu fikih Mazhab Syafi’I sampai waktu ‘Ashar. Selesai salat ‘Ashar baginda pun masuk ke sebelah rumah di situ, ditanggalkannya pakaian Fuqaha atau ahli Fiqih, yaitu pakaian yang biasa dipakainya ke masjid pada hari Jum’at dengan berjalan kaki. Kemudian dipakainya kembali pakaian resminya sebagai raja yang terbuat dari sutra dan katun.

Ibnu Bathutah tidak menerangkan bahwa selama pembicaraannya itu melalui penterjemah, seperti yang dilakukannya di tempat-tempat lain ketika berbicara dengan seorang raja asing. Itu menjadi suatu pertanda, bahwa sultan Malik Az-Zahir yang memerintah Pasai dewasa itu fasih berbahasa Arab.

Sumber : Buku "Abuya Syeikh Muhammad Waly Al-Khalidy. Bapak Pendidikan Aceh" 2016, Banda Aceh

No comments:

Post a Comment