12/21/19

MENGENAL SOSOK PEMBAWA TAREKAT SYATTARIYAH DI INDONESIA

Pada abad ke-16 dan 17 kita kenal beberapa ulama sufi di Aceh yang besar sumbangan pemikirannya bagi penyiaran agama Islam dan kesusasteraan Melayu. Mereka adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani, Nuruddin Arraniri, dan Abdurrauf As-sinkli. 

Nama besar yang disandingkan dengan penyebar tarekat Syattariyah adalah Syeh Abdurrauf al-Singkili. Oleh karena itu, pada makalah ini hanya di cantumkan biografi beliau saja. Adapun nama murid-muridnya seperti Syeh Abdul Muhyi Pamijahan, Syeh Burnahuddin Ulakan atau pun murid-murid beliau yang lain. Kenapa demikian? Karena Syeh Abdurrauf al-Singkili adalah guru besar bagi syeh-syeh yang lain. 

Riwayat hidup Abdurrauf dapat diketahui dari beberapa sumber di antaranya kitab yang ditulisnya sendiri berjudul "Umdatu l-Muhtajin ila Suluk Maslaki l-Mufradinpada" bagian kesimpulan, selain itu terdapat pula dalam disertasi Ringkas yang berjudul Abdoerraoef van Singkel. 

Syeh Abdurrauf (1615-1693) dikenal oleh masyarakat sebagai ulama, tokoh sufi, dan pengarang terkenal. la belajar di negara-negara Arab terutama di Mekah dan Yaman selama 19 tahun. la belajar kepada beberapa ahli di antaranya: 15 orang guru, 27 orang ulama ternama, dan 15 orang sufi kenamaan. 

Sejarah telah mencatat bahwa al-Singkli merupakan murid dari dua orang ulama sufi yang menetap di Mekkah dan Madinah. Ia sempat menerima baiat tarekat syattariyah di samping ilmu-ilmu sufi yang lainnya, termasuk sekte, dan bidang ruang lingkup ilmu pengetahuan yang ada hubungan dengannmya. 

Guru Abdurrauf yang terkenal adalah Syeh Shafiuddin Ahmad Ad-Dajjani AI-Qusyasyi yang hidup sekitar tahun 1583-1660. Ia menerima baiat tarekat Syattariyah dari AI-Qusyasyi dan menerima khirqah darinya, yaitu suatu tanda bahwa ia telah lulus dalam melaksanakan amalan tarekat melalui pengkajian secara suluk, tanda itu berupa selendang berwarna putih yang diberikan oleh gurunya , yang berarti ia telah dapat membaiat kepada orang lain mengenai ajaran tarekat Syattariyah. 

Nama lain dari Abdurrauf As-singkeli adalah Abdurrauf bin Ali AI-Fansuri. Hal ini banyak dipertanyakan orang karena penambahan Tansur di belakang namanya seakan-akan menunjukan adanya hubungan silsilah dengan Hamah Fansuri. Penambahan nama Fansuri kemungkinan hanya menunjuk daerah asal Abdurrauf, yang biasanya disebut As-singkili (dari Singkel) menjadi Fansuri (dari Fansur), kedua tempat ini ada di daerah Aceh. 

Syeh Abdurrauf wafat tahun 1693 dimakamkan di Kuala Aceh, sampai sekarang makamnya sering diziarahi orang. Kemudian ia terkenal dengan sebutan Tengku di Kuala atau Syeh di Kuala. Sekarang nama itu diabadikan menjadi nama perguruan tinggi di Banda Aceh, yaitu Universitas Syah Kuala (Unsyiah)

Syeh Abdurrauf menulis beberapa kitab antara lain: Terjemahan Tafsir Baidhawi ke dalam bahasa Melayu, Daqa,iqu ‘I-Huruf 'Umdatu ‘l-Muhtajin ila Suluk Maslaki ‘I-Mufradin, Mir’atu ‘t- Tullab, At-Tariqatu ‘sy-Syattariyyah (Syattariyah pen.), Bayan Tajalli Hidayatu ‘l-Balighah. Sejumlah karya tersebut memperkaya perbendaharaan pengetahuan keagamaan dan kesusasteraan Melayu. 

Karya Syekh Abdurrauf yang berjudul Syattariyah ditulis berdasarkan anjuran Ratu Shafiyyatuddin yang memerintah di Aceh tahun 1641-1675. Kecuali itu Ratu juga meminta kepada Syeh Abdurrauf agar ia dibimbing untuk menjalankan ajaran tarekat dan tasawuf. Ikut sertanya Ratu Shafiyatuddin dalam bidang Tarekat Syattariyah pada khususnya dan bidang tasawuf pada umumnya, dapat memperkuat kedudukan ajaran yang dibawa oleh Syeh Abdurrauf.

Sumber: Makalah Melacak Tarekat Syattariyah oleh Rian Hidayat Abi El-Bantany

No comments:

Post a Comment