12/24/19

Peran Habib Muda Seunagan Pada Masa Merebut Kemerdekaan Indonesia

Ketika Jepang mendarat di Aceh pada tahun 1942, Habib Seunagan adalah salah seorang ulama yang tidak mau bekerja sama dengan mereka. Ia bersama dengan Abuya Muda Waly dan Teungku Hasan Krueng Kalee memiliki pandangan berbeda dengan kebanyakan ulama PUSA yang bekerja sama dengan Jepang ketika itu. Akibat sikapnya tersebut, ia ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. 

Para tahanan kemudian diperiksa di markas militer Jepang di Mata Ie, Aceh Besar dan oleh para tahanan yang ada, Habib Seunagan dipercaya untuk menjadi wakil mereka. Ketika pemeriksaan berlangsung, ada pertanyaan dari pemeriksa mengenai siapa yang dijadikan pemimpin oleh Habib Seunagan dan kemudian dijawab bahwa pimpinannya adalah Tenno Heika atau Kaisar Jepang. Mendengar jawaban tersebut maka pemeriksaan langsung dihentikan dan tahanan yang menjadikan Habib Seunagan sebagai perwakilan mereka dibebaskan. Pengakuan tersebut dilakukan dengan alasan untuk menyelamatkan para tahanan yang telah menjadikannya perwakilan mereka.

Mengibarkan Bendera Merah Putih Pertama
Ketika proklamasi dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945, berita tersebut tiba di Seunagan beberapa hari kemudian. Pada saat itu, Wedana Aceh Barat, Abdullah Dariya, yang pernah dipenjarakan bersama dengan Bung Karno diberitahukan agar mengibarkan bendera merah putih di daerahnya.

Karena keberadaan pasukan Jepang yang masih menjaga daerahnya, ia meminta bantuan Habib Seunagan agar dapat mengibarkan bendera merah putih di kawasan Seunagan dan Habib Seunagan menyanggupinya dengan mengibarkan bendera tersebut di daerah Jeuram.

Adapun tokoh-tokoh yang hadir ketika pengibaran bendera tersebut diantaranya adalah: Habib Seunagan, Zakariya Yunus, Toke Nyaklah Hamzah, Guru Muhammad Jamin, Teungku Idris Padang, Haji Nyak Dolah Ilahm dan Mahyuddin Asyik dari kalangan pemuda. Adapun pengibaran bendera ini adalah pengibaran bendera merah putih pertama kali di seluruh Aceh.

Mengatasi Pemberontakan DI/TII
Ketika pada tahun 1953 diproklamasikan berdirinya Darul Islam oleh Teungku Daud Beureueh, Habib Seunagan bersama dengan Abuya Muda Waly dan Teungku Hasan Krueng Kalee mengeluarkan pernyataan tidak setuju dengan gerakan tersebut. Pernyataan tersebut dilandasi pada hukum Islam yang memandang pemberontakan kepada pemerintah yang sah adalah haram. Apalagi Teungku Daud Beureueh pernah menerima keberadaan Indonesia dan pernah bekerja untuk pemerintah Indonesia.

Bersama dengan masyarakat Peuleukung dan sekitarnya, Habib Seunagan kemudian membentuk Organisasi Pagar Desa (OPD) untuk menghadapi pasukan DI/TII yang mengganggu rakyat. Organisasi ini dipimpin oleh Ceh Nanggroe, salah seorang murid Habib Seunagan.

Untuk mengatasi DI/TII, pemerintah mengirimkan tentara untuk menumpas mereka. Masalah baru kemudian muncul karena tentara tidak mengenal pengikut DI/TII sehingga banyak masyarakat menjadi korban. Untuk mengatasi hal tersebut maka Habib Seunagan mengeluarkan sebuah Kartu Identitas yang menyatakan bahwa nama yang tertera pada kartu tersebut adalah murid Habib Seunagan dan tidak terlibat dalam DI/TII.

Karena jasa-jasanya tersebut maka pada tahun 1958 Habib Seunagan diundang ke Istana Negara oleh Presiden Sukarno serta dibiayai untuk berkunjung ke beberapa tempat seperti Mesjid Demak dan kemudian diberikan sebuah mobil Land Rover untuk transportasi di Peuleukung. Habib Seunagan juga mendapat penganugerahan dari Pemerintah RI berupa Tanda Kehormormatan Bintang Jasa Utama sebagai seorang pejuang kemerdekaan.

No comments:

Post a Comment