1/1/20

Pesan Abu Tumin, Lanjutan...

... Sebelumnya

“Tapi dengan tetap tidak melupakan ilmu iman yang diperolehnya di masa didik, karena itu adalah seindah-indahnya ilmu. Landasan terbentuknya ideologi dan menjadi bekal untuk terjun ke masyarakat.”
Al-Madinatuddiniyah Babussalam adalah dayah salafiah pertama di Aceh yang mendorong para santrinya untuk juga menuntut ilmu di sekolah formal.
“Kala itu beberapa dayah salafiah lainnya masih terkesan tertutup dan agak sukar memberikan izin kepada santri untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah formal.”
Beliau juga mengatakan seperi pada saat muzakarah-muzakarah, ulama di Aceh masih sangat peduli terhadap masyarakat Serambi Mekkah ini dalam menjaga iman dan keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal itu, kata Abu Tumin Blang Bladeh, dibuktikan dengan Muzakarah Ulama seAceh untuk membahas berbagai persoalan menyangkut akidah. Seperti Muzakarah Ulama yang digelar di Dayah Bustanul Huda, Paya Pasi, Julok, Aceh Timur, Ahad, 16 Maret 2014 dan lainnya.
Muzakarah Ulama yang dilaksanakan berawal dari usulan Bupati Aceh Timur Hasballah M. Thaib atau Rocky dan Teungku Haji Muhammad Ali (Abu Paya Pasi) itu membahas persoalan menyangkut pelaksanaan ibadah haji bagi umat muslim Aceh atau Indonesia, dan juga masalah talak tiga. “Adanya Muzakarah Ulama ini menandakan bahwa para ulama Aceh masih menjaga ketahanan akidah masyarakat muslim di Aceh,” ujar Abu Tumin Blang Blahdeh di awal muzakarah itu.
Abu Tumin merupakan pimpinan Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam, Blang Bladeh, Bireuen, kemudian berpesan kepada masyarakat Aceh agar jangan sampai ada pihak tertentu yang memisahkan masyarakat dengan ulama. “Pesan kami ulama, bila ada pihak-pihak yang ingin memisahkah masyarakat dengan ulama, nyan adalah racon bagi droe neuh. Nyan pesan lon, nyan pesan lon (itu adalah racun bagi masyarakat. Itu pesan saya, itu pesan saya),” ujar Abu Tumin mengulang-ulang pesannya di hadapan ribuan santri dan warga Paya Pasi, Aceh Timur yang menghadiri muzakarah tersebut.



Apabila ada yang memisahkan masyarakat dengan ulama, Abu Tumin melanjutkan, maka yang akan membunuh ulama adalah orang Aceh sendiri. “Han neu pateh neu kalon singoh (kalau tidak percaya, lihatlah yang akan terjadi di masa akan datang),” kata ulama yang usianya paling tua di antara para ulama kharismatik di Aceh ini.

No comments:

Post a Comment